Kemiskinan di Aceh Tengah..seorang Bapak yang tinggal dalam sebuah gubuk reot di Pinggiran Danau Takengon...
Rabu, 18 Februari 2009
Kemiskinan
Kemiskinan di Aceh Tengah..seorang Bapak yang tinggal dalam sebuah gubuk reot di Pinggiran Danau Takengon...
Mumatal
Pagi Yang Indah di Paya Serngi
Suatu pagi , Selasa (17/2) di Kampung PAya Serngi, pinggiran Kota Takengon, 2 kilometer arah Utara. Saat pajar menyalami bumi dengan sentuhan rona merah mentari, seorang pengembala lembu yang kami sapa Cek Khairu melintas kolam umu mengantar lembu-lmbunya ke penambatan....ditangan kirinya, sebuah senapan angin, bukan AK 47 ditentengnya. Barangkali ada burung yang akan dibidiknya.....suasana pagi itu begitu Indah dan mempesona...Allahu Akbar
Sabtu, 07 Februari 2009
RADIO RIMBA RAYA DIFILMKAN
Rabu, 2009 Februari 04
RADIO RIMBA RAYA DIFILMKAN
TAKENGON- Kisah perjuangan Radio Rimba raya dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia sedang dibuat dalam bentuk film dokumenter. Selama ini, kiprah perjuangan Radio Rimba Raya kurang dikenal masyarakat luas, padahal peran radio tersebut sangat besar dalam mempertahankan Indonesia dari agresi Belanda. Film Dokumenter itu dibuat oleh Kanca Mara Production.Sutradara dan Riset, Ikmal Gopi, mengatakan, film dokumenter Radio Rimba Raya berdurasi ( masa putar ) sepanjang 90 menit itu mengambil gambar dengan setting masa lalu dikota, Jakarta, Yogyakarta, Padang Sumatera barat, Banda Aceh ( Koetaradja), Kota Bireuen dan takengon.
Menurut sejarahnya, perangkat radio Rimba raya yang berada dikampung Rime Raya Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah itu dibeli pada John Lee ( seorang blasteran Manado-China ) yang menjadi perantara pembelian perangkat Radio tersebut.
Perangkat radio Rimba raya itu dibeli di Malaysia dan dibawa ke kota Juang Bireuen.
Dari kota Bireuen, perangkat itu dibawa ke Koetaradja ( Banda Aceh ) dan sempat dirangkai komponen-komponennya pada akhir tahun 1948, namun belum sempat mengudara, oleh pejuang-pejuang Aceh, perangkat radio itu dibawa ke Kampung Rime raya yang saat itu masuk kecamatan Timang gajah, Aceh Tengah.
Sebelumnya, perangkat radio itu direncanakan akan dibawa ke Kampung Burni Bius kecamatan Silih nara. Namun, karena kondisi keamanan di kawasan itu tidak aman, penjajah belanda sedang memantau proses pengiriman radio itu, maka peralatan tersebut ditempatkan di kampung Rime Raya pada Lokasi tugu Radio Rimba Raya yang ada sekarang.
Dalam mendirikan Radio Rimba Raya dikawasan itu, kata Ikmal Gopi, melibatkan 10 teknisi dari para pejuang Aceh saat itu. Lewat perjuangan berat, akhirnya awal Desember 1948, Radio Rimba Raya mengudara yang memberitakan bahwa Republik Indonesia masih eksis kepada dunia luar. Dari Radio Rimba Raya ini para Pahlawan Aceh mengumandangkan pesan kepada pejuang-pejuang kemerdekaan lainnya untuk terus berjuang mempertahankan negara dari penjajahan Belanda. " Lewat radio ini, para pejuang Aceh mengobarkan semangat juang bagi pejuang-pejuang diluar Aceh,' ujar Ikmal Gopi.
Persiapan pembuatan film dokumenter Radio Rimba Raya memakan waktu dua tahun lebih yang didahului dengan riset dan mulai pengambilan gambar 1 Agustus 2008. film sejarah itu dibuat dengan format layar lebar dengan sistem suara stereo digital, kata Ikmal Gopi yang didampingi seniman Jauhari Samalanga. (min)
Jumat, 09 Januari 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
